Klinik Apollo – Gonore di anus merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang terjadi ketika bakteri Neisseria gonorrhoeae menginfeksi area rektum.

Kondisi ini dapat terjadi pada pria maupun wanita dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Karena gejalanya bisa ringan atau tidak muncul sama sekali, seseorang dapat mengalami gonore rektal tanpa menyadarinya dan tetap menularkan infeksi kepada pasangan seksual.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa infeksi gonore pada anus dapat menyebabkan cairan keluar dari anus, perdarahan, gatal, rasa sakit, serta nyeri saat buang air besar (BAB).

Oleh karena itu, memahami gejala gonore di anus, penyebab, cara penularan, pemeriksaan, dan pengobatannya penting untuk mencegah komplikasi serta penularan berulang (kambuh).

Apa Itu Gonore di Anus?

Gonore adalah infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae yang dapat menyerang beberapa bagian tubuh, termasuk alat kelamin, rektum, dan tenggorokan. Infeksi pada rektum sering di sebut gonore rektal atau gonore pada anus.

Bakteri gonore dapat menginfeksi rektum setelah terjadi kontak seksual yang melibatkan area tersebut.

Namun, seseorang juga dapat mengalami infeksi di beberapa lokasi sekaligus, misalnya pada rektum dan tenggorokan.

Yang perlu di perhatikan, gonore di anus tidak selalu menimbulkan gejala. CDC menyebutkan bahwa infeksi rektal dapat tidak bergejala atau menyebabkan keluhan seperti cairan, gatal, nyeri, perdarahan, dan buang air besar (BAB) yang terasa sakit.

Penyebab Gonore di Anus

Penyebab gonore di anus adalah bakteri Neisseria gonorrhoeae.

Bakteri tersebut dapat menular melalui kontak seksual dengan orang yang terinfeksi.

Penularan terutama terjadi melalui:

  • Seks anal tanpa kondom (pengaman atau pelindung).
  • Kontak dengan area genital atau rektum yang terinfeksi.
  • Aktivitas seksual yang menyebabkan perpindahan bakteri dari satu area tubuh ke area lainnya.
  • Kontak seksual dengan pasangan yang memiliki gonore tetapi tidak menyadari dirinya terinfeksi.

Gonore juga dapat menginfeksi tenggorokan dan alat kelamin.

WHO memperkirakan terdapat 82,4 juta infeksi baru gonore pada orang dewasa usia 15 hingga 49 tahun secara global pada 2020, sehingga penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Gejala Gonore di Anus yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua orang mengalami gejala.

Namun, ketika infeksi menimbulkan keluhan, beberapa tanda berikut dapat muncul.

1. Anus terasa gatal

Rasa gatal atau tidak nyaman di sekitar anus dapat menjadi salah satu tanda infeksi rektal.

Namun, gatal pada anus tidak selalu berarti gonore.

Wasir, iritasi kulit, infeksi jamur, dan berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkan keluhan serupa.

2. Keluar cairan dari anus

Salah satu tanda yang perlu di perhatikan adalah munculnya cairan atau lendir yang tidak biasa dari anus.

Cairan tersebut dapat muncul secara spontan atau terlihat ketika seseorang membersihkan area anus.

3. Nyeri pada anus atau rektum

Infeksi dapat menyebabkan anus atau bagian dalam rektum terasa nyeri, perih, atau tidak nyaman.

Rasa sakit dapat menjadi lebih terasa ketika duduk atau setelah buang air besar (BAB).

4. Nyeri saat buang air besar (BAB)

Gonore rektal dapat menyebabkan buang air besar (BAB) terasa sakit. WHO memasukkan painful bowel movements sebagai salah satu gejala infeksi gonore pada anus.

5. Perdarahan dari anus

Infeksi dan peradangan pada jaringan rektum dapat menyebabkan perdarahan.

Jika terdapat darah dari anus, jangan langsung menganggap penyebabnya adalah gonore.

Wasir, fisura ani, polip, dan kondisi lain juga dapat menyebabkan perdarahan sehingga pemeriksaan medis tetap di perlukan.

6. Rasa ingin terus buang air besar (BAB)

Peradangan pada rektum dapat menyebabkan sensasi seperti masih ingin buang air besar (BAB) meskipun usus sudah kosong.

Kondisi ini di kenal sebagai tenesmus dan dapat di temukan pada proktitis akibat IMS (infeksi menular seksual) tertentu.

7. Tidak mengalami gejala apa pun

Ini merupakan salah satu hal yang membuat gonore di anus sulit di kenali.

Seseorang dapat terinfeksi tanpa merasakan keluhan.

Karena itu, tidak adanya gejala bukan berarti seseorang pasti bebas dari gonore.

Apakah Gonore di Anus Bisa Menyerupai Ambeien?

Bisa. Gonore rektal dapat menyebabkan nyeri, gatal, iritasi, atau perdarahan yang juga dapat di temukan pada penyakit anus lainnya.

Namun, penyebabnya berbeda. Ambeien berkaitan dengan pembengkakan pembuluh darah di area anus atau rektum, sedangkan gonore di sebabkan oleh infeksi bakteri.

Karena gejalanya dapat tumpang tindih, jangan menentukan diagnosis hanya berdasarkan gejala.

Terutama jika keluhan muncul setelah hubungan seksual berisiko atau di sertai cairan yang tidak biasa, pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) dapat membantu menentukan penyebabnya.

Bagaimana Gonore di Anus Didiagnosis?

Pemeriksaan gonore perlu di sesuaikan dengan lokasi infeksi dan riwayat paparan seksual.

Jika terdapat kemungkinan infeksi pada rektum, dokter ahli dapat mengambil sampel menggunakan swab dari rektum untuk di periksa di laboratorium.

CDC menjelaskan bahwa pemeriksaan menggunakan NAAT (nucleic acid amplification test) dapat di gunakan untuk mendeteksi N. gonorrhoeae pada spesimen rektal.

Kultur juga dapat di gunakan pada kondisi tertentu, terutama ketika terdapat dugaan kegagalan pengobatan atau resistensi antibiotik.

Mengapa pemeriksaan lokasi infeksi penting?

Misalnya, seseorang melakukan seks anal dan mengalami gonore pada rektum tetapi tidak mengalami keluhan pada penis.

Jika hanya melakukan pemeriksaan urine tanpa mempertimbangkan lokasi paparan, infeksi pada rektum dapat terlewat.

Karena itu, beri tahu tenaga medis mengenai jenis paparan seksual yang terjadi agar dokter dapat menentukan lokasi pemeriksaan yang sesuai.

Apakah Gonore di Anus Bisa Disembuhkan?

Ya. Gonore merupakan infeksi bakteri yang dapat di sembuhkan dengan antibiotik yang tepat. Namun, pemilihan antibiotik harus di lakukan oleh tenaga medis.

Resistensi antibiotik pada N. gonorrhoeae menjadi masalah yang semakin penting di berbagai negara sehingga penggunaan antibiotik secara sembarangan justru dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan.

WHO menegaskan bahwa resistensi antimikroba pada gonore telah mengurangi pilihan pengobatan yang efektif. CDC saat ini merekomendasikan terapi utama untuk gonore tanpa komplikasi, termasuk infeksi anorektal, dengan penyesuaian dosis berdasarkan kondisi pasien.

Jangan membeli atau menggunakan antibiotik sendiri, karena dokter ahli perlu mempertimbangkan kemungkinan infeksi lain, alergi obat, berat badan, lokasi infeksi, serta pola resistensi setempat.

Berapa Lama Gonore di Anus Sembuh?

Waktu pemulihan dapat berbeda pada setiap orang. Setelah mendapatkan pengobatan yang sesuai, gejala biasanya berangsur membaik.

Namun, jika keluhan tetap muncul, semakin berat, atau kembali setelah pengobatan, pasien perlu melakukan evaluasi ulang.

Gejala yang menetap tidak selalu berarti antibiotik gagal. Penyebab lain, infeksi ulang (kambuh) dari pasangan seksual yang belum mendapatkan pengobatan, atau infeksi lain dengan gejala serupa juga perlu di pertimbangkan.

CDC merekomendasikan evaluasi lebih lanjut pada kasus yang di curigai sebagai kegagalan terapi.

Bolehkah Berhubungan Seks Setelah Pengobatan Gonore?

Sebaiknya hindari aktivitas seksual sampai pengobatan selesai dan masa tunggu yang di anjurkan telah terpenuhi.

CDC merekomendasikan agar seseorang yang mendapatkan pengobatan gonore menunggu 7 hari setelah pengobatan sebelum melakukan hubungan seksual.

Pasangan seksual juga perlu mendapatkan evaluasi dan pengobatan yang sesuai untuk mencegah terjadinya infeksi ulang (kambuh).

Selain itu, penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten dan benar dapat membantu menurunkan risiko penularan gonore.

Apa yang Terjadi Jika Gonore di Anus Tidak Diobati?

Jangan mengabaikan gonore meskipun gejalanya ringan.

Infeksi yang tidak mendapatkan pengobatan dapat menyebabkan komplikasi dan meningkatkan risiko penularan kepada pasangan seksual.

WHO juga menyebutkan bahwa gonore yang tidak di obati dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan reproduksi dan meningkatkan risiko mendapatkan atau menularkan HIV.

Selain itu, gonore yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat dapat terus menyebar dan dalam kasus yang jarang terjadi menyebabkan disseminated gonococcal infection (DGI), yaitu infeksi yang menyebar ke bagian tubuh lain.

Apakah Gonore di Anus Bisa Menular Kembali?

Bisa. Seseorang yang sudah sembuh dari gonore tidak otomatis memiliki kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

Infeksi ulang (kambuh) dapat terjadi apabila kembali melakukan kontak seksual dengan pasangan seksual yang belum mendapatkan pengobatan atau dengan pasangan lain yang terinfeksi.

Karena itu, setelah diagnosis gonore, pasangan seksual juga perlu di beri tahu agar dapat melakukan pemeriksaan dan memperoleh penanganan yang sesuai.

CDC juga menganjurkan pasien yang di diagnosis gonore untuk mendapatkan pemeriksaan ulang setelah pengobatan guna mendeteksi kemungkinan reinfeksi.

Gonore di Anus dan Infeksi Menular Seksual Lain

Gejala gonore rektal dapat menyerupai beberapa IMS (infeksi menular seksuall) lainnya. Contohnya:

  • Klamidia rektal.
  • Herpes genital.
  • Sifilis (raja singa).
  • Trikomoniasis pada kondisi tertentu.
  • Infeksi lain yang menyebabkan proktitis.

CDC merekomendasikan evaluasi terhadap beberapa penyebab IMS (infeksi menular seksual) pada pasien dengan proktitis, termasuk gonore, klamidia, sifilis, dan herpes sesuai kondisi klinis.

Karena itu, seseorang yang mengalami gejala pada anus setelah aktivitas seksual tidak sebaiknya langsung mengonsumsi obat-obatan gonore tanpa pemeriksaan.

Kapan Harus Memeriksakan Gonore di Anus?

Segera lakukan konsultasi medis jika Anda mengalami:

  • Cairan tidak normal (abnormal) dari anus.
  • Gatal pada anus yang menetap.
  • Nyeri pada anus atau rectum.
  • Nyeri ketika buang air besar (BAB).
  • Perdarahan dari anus.
  • Sensasi terus ingin buang air besar (BAB).
  • Keluhan setelah melakukan hubungan seksual tanpa kondom (pengaman atau pelindung).
  • Pasangan seksual di ketahui mengalami gonore atau IMS (infeksi menular seksual).
  • Pernah di diagnosis IMS (infeksi menular seksual) sebelumnya.

Jangan menunggu sampai gejalanya semakin berat.

Pemeriksaan lebih awal dapat membantu memastikan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.

Cara Mencegah Gonore di Anus

Beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko:

1. Gunakan kondom

Gunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten dan benar ketika melakukan aktivitas seksual.

Kondom (pengaman atau pelindung) dapat membantu mengurangi risiko penularan gonore.

2. Lakukan pemeriksaan IMS

Jika memiliki pasangan seksual baru, berganti pasangan seksual, atau melakukan aktivitas seksual yang meningkatkan risiko IMS (infeksi menular seksual), diskusikan dengan tenaga kesehatan mengenai pemeriksaan yang sesuai.

3. Hindari hubungan seksual sementara ketika sedang menjalani pengobatan

Hal ini membantu mencegah penularan dan infeksi ulang (kambuh).

4. Pastikan pasangan seksual mendapatkan pemeriksaan

Mengobati 1 orang saja tidak cukup jika pasangan yang terinfeksi tidak mendapatkan penanganan.

5. Jangan mengonsumsi antibiotik sembarangan

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat berkontribusi terhadap resistensi antibiotik dan membuat gonore semakin sulit di tangani.

WHO secara khusus menyoroti meningkatnya resistensi antimikroba pada gonore.

FAQ Seputar Gonore di Anus

Apakah gonore bisa menyebabkan anus gatal?

Bisa.

Gatal pada anus merupakan salah satu gejala yang dapat muncul pada gonore rektal.

Namun, gatal juga dapat di sebabkan oleh kondisi lain.

Apakah gonore di anus selalu mengeluarkan cairan?

Tidak.

Sebagian infeksi tidak menimbulkan gejala sama sekali.

Apakah gonore di anus bisa sembuh?

Ya.

Gonore dapat di sembuhkan dengan antibiotik yang tepat.

Namun, seseorang tetap dapat mengalami infeksi kembali (kambuh) setelah sembuh.

Apakah gonore di anus bisa menyebabkan darah?

Bisa.

Perdarahan merupakan salah satu gejala yang dapat muncul pada infeksi gonore rektal.

Namun, perdarahan dari anus memiliki banyak kemungkinan penyebab sehingga pemeriksaan tetap di perlukan.

Apakah pemeriksaan urine cukup untuk mendeteksi gonore di anus?

Belum tentu.

Jika terdapat paparan seksual melalui anus, dokter ahli dapat mempertimbangkan pemeriksaan dengan swab rektal karena lokasi infeksi perlu di periksa secara spesifik.

Kesimpulan

Gonore di anus merupakan infeksi rektal akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae yang dapat terjadi pada pria maupun wanita. Gejalanya dapat berupa gatal, nyeri, cairan dari anus, perdarahan, serta nyeri saat buang air besar (BAB).

Namun, sebagian orang tidak mengalami gejala sehingga pemeriksaan tetap penting ketika terdapat risiko paparan. Gonore dapat di sembuhkan dengan antibiotik yang sesuai, tetapi penggunaan obat-obatan harus berdasarkan evaluasi tenaga medis.

Pemeriksaan juga penting untuk membedakan gonore dari IMS (infeksi menular seksual) lain yang dapat menyebabkan gejala serupa serta mencegah komplikasi dan infeksi berulang (kambuh).

Jika Anda mengalami gejala gonore di anus atau memiliki kekhawatiran setelah melakukan aktivitas seksual berisiko, konsultasikan segera ke Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai, membantu mengetahui penyebab keluhan, memperoleh rekomendasi pengobatan berdasarkan kondisi medis, serta mendapatkan layanan yang mengutamakan privasi pasien.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Join to newsletter.

Informasi terupdate penyakit kelamin.

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.

Butuh bantuan kami?

Hubungi kami di 0821-1099-9870

Tim medis kami online 24 jam/hari.