Klinik Apollo – Nyeri testis setelah berhubungan seksual dapat terasa sebagai nyeri ringan, rasa ngilu, berat, hingga sakit yang cukup mengganggu.
Kondisi ini tidak selalu berarti masalah serius, tetapi tetap perlu di perhatikan, terutama jika nyeri berulang (kambuh) atau di sertai pembengkakan, demam, nyeri saat kencing, atau keluarnya cairan dari penis.
Penyebabnya cukup beragam. Aktivitas seksual yang intens dapat menyebabkan tekanan atau cedera ringan, tetapi infeksi pada saluran reproduksi, epididimitis, prostatitis, hernia, varikokel, hingga torsio testis juga dapat menyebabkan nyeri di area tersebut.
Karena penyebabnya berbeda, jangan langsung menganggap nyeri testis setelah berhubungan seksual sebagai akibat dari aktivitas seksual semata.
Apakah Nyeri Testis Setelah Berhubungan Seks Normal?
Nyeri ringan yang muncul sesaat setelah aktivitas seksual dapat terjadi, misalnya akibat tekanan pada skrotum atau otot di sekitar panggul.
Namun, nyeri yang menetap, semakin berat, atau berulang (kambuh) bukan kondisi yang sebaiknya di abaikan.
Testis memiliki banyak saraf sehingga cedera atau peradangan ringan sekalipun dapat menimbulkan rasa sakit.
Selain itu, rasa sakit yang terasa di testis terkadang sebenarnya berasal dari area lain, seperti selangkangan, perut, saluran kemih, atau ginjal.
Karena itu, penting memperhatikan kapan nyeri muncul, berapa lama berlangsung, apakah hanya 1 sisi, serta gejala lain yang menyertainya.
Penyebab Nyeri Testis Setelah Berhubungan Seksual
Berikut penyebabnya:
1. Tekanan atau cedera saat berhubungan intim
Gerakan atau posisi seksual tertentu dapat memberikan tekanan pada skrotum dan testis.
Jika terjadi benturan atau tekanan yang cukup kuat, jaringan di sekitar testis dapat mengalami iritasi dan menyebabkan nyeri.
Biasanya keluhan berkaitan dengan aktivitas yang menyebabkan tekanan dan dapat membaik setelah beristirahat.
Namun, cedera yang menyebabkan nyeri berat atau pembengkakan perlu di periksa dokter.
2. Epididimitis
Epididimitis merupakan peradangan pada epididimis, yaitu saluran kecil yang berada di belakang testis dan berfungsi menyimpan serta membawa sperma.
Kondisi ini dapat menyebabkan:
- Nyeri pada salah satu testis.
- Skrotum membengkak atau terasa hangat.
- Testis terasa nyeri ketika di sentuh.
- Nyeri saat kencing.
- Sering ingin kencing.
- Keluar cairan dari penis.
- Nyeri pada perut bagian bawah atau panggul.
- Terkadang di sertai demam.
Pada pria yang aktif secara seksual, epididimitis dapat berkaitan dengan infeksi menular seksual (IMS), terutama gonore (kencing nanah) dan klamidia.
Jika nyeri testis setelah berhubungan intim di sertai kencing perih atau cairan dari penis, sebaiknya jangan menunda pemeriksaan karena gejala tersebut dapat mengarah pada infeksi.
3. Prostatitis
Prostatitis merupakan peradangan pada kelenjar prostat.
Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri di area panggul, selangkangan, penis, atau testis.
Pada sebagian pria, keluhan dapat di sertai:
- Nyeri saat kencing.
- Sering kencing.
- Nyeri saat ejakulasi.
- Nyeri di antara skrotum dan anus.
- Kesulitan kencing.
Karena gejalanya dapat menyerupai gangguan saluran kemih atau reproduksi lainnya, pemeriksaan dokter ahli di perlukan untuk menentukan penyebabnya.
4. Varikokel
Varikokel adalah pembesaran pembuluh darah vena di dalam skrotum.
Kondisi ini lebih sering di temukan di sisi kiri dan dapat menimbulkan rasa berat atau nyeri tumpul pada testis.
Nyeri dapat semakin terasa setelah berdiri lama atau melakukan aktivitas tertentu.
Varikokel juga dapat berkaitan dengan gangguan kesuburan pada sebagian pria.
5. Hernia inguinalis
Hernia inguinalis terjadi ketika jaringan dari dalam perut menonjol melalui area yang lemah pada dinding perut.
Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit atau benjolan di selangkangan yang terkadang terasa sampai skrotum.
Aktivitas yang meningkatkan tekanan dalam perut, termasuk aktivitas seksual, dapat membuat keluhan terasa lebih jelas.
6. Orkitis
Orkitis merupakan peradangan pada salah satu atau kedua testis.
Kondisi ini dapat di sebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.
Gejalanya dapat berupa pembengkakan testis, nyeri dengan tingkat keparahan yang bervariasi, demam, mual, atau tubuh terasa tidak enak badan.
7. Torsio testis
Torsio testis merupakan kondisi darurat medis.
Kondisi ini terjadi ketika testis berputar sehingga tali spermatika ikut terpuntir dan aliran darah ke testis berkurang atau terhenti.
Gejalanya dapat berupa:
- Nyeri testis yang muncul secara tiba-tiba dan berat.
- Pembengkakan skrotum.
- Nyeri perut.
- Mual atau muntah.
- Posisi salah satu testis tampak lebih tinggi atau berbeda.
- Nyeri yang tetap berlangsung meskipun sedang beristirahat.
Torsio testis membutuhkan penanganan segera karena keterlambatan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada testis.
Jika nyeri testis muncul tiba-tiba dan sangat hebat, jangan menunggu sampai keesokan hari.
Segera ke IGD.
Nyeri Testis Setelah Ejakulasi, Apa Penyebabnya?
Sebagian pria mungkin merasakan nyeri pada testis atau area panggul setelah ejakulasi.
Penyebabnya dapat berbeda-beda, mulai dari ketegangan otot panggul hingga peradangan pada prostat atau saluran reproduksi.
Nyeri setelah ejakulasi yang berulang (kambuh), berlangsung lama, atau di sertai nyeri saat kencing sebaiknya di periksakan.
Kondisi seperti prostatitis dan gangguan pada saluran reproduksi dapat menyebabkan nyeri yang berkaitan dengan ejakulasi.
Nyeri Testis Setelah Berhubungan Disertai Kencing Perih
Kombinasi nyeri testis + kencing terasa perih + keluar cairan dari penis perlu mendapat perhatian lebih.
Salah satu kemungkinan adalah epididimitis akibat IMS (infeksi menular seksual) seperti gonore (kencing nanah) atau klamidia.
CDC menjelaskan bahwa epididimitis akut dapat di sebabkan oleh Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae, serta dapat di sertai uretritis.
Dalam kondisi tersebut, dokter ahli dapat mempertimbangkan pemeriksaan urine, pemeriksaan cairan dari penis, atau tes IMS (infeksi menular seksual) sesuai kondisi pasien.
Jangan mengonsumsi antibiotik sendiri karena jenis infeksi dan pilihan antibiotiknya perlu di tentukan berdasarkan pemeriksaan medis.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Penyebab Nyeri Testis?
Dokter ahli biasanya akan menanyakan:
- Kapan nyeri mulai muncul.
- Apakah nyeri terjadi setelah ejakulasi.
- Apakah nyeri hanya pada satu testis atau keduanya.
- Apakah terdapat pembengkakan atau benjolan.
- Apakah terdapat kencing perih.
- Apakah penis mengeluarkan cairan.
- Apakah terdapat demam, mual, atau muntah.
- Riwayat aktivitas seksual dan kemungkinan paparan IMS (infeksi menular seksual).
Selanjutnya, dokter ahli dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, bila di perlukan, pemeriksaan penunjang seperti:
1. Pemeriksaan urine
Dapat membantu mencari tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau kondisi tertentu lainnya.
2. Tes IMS (infeksi menular seksual)
Dapat di lakukan apabila terdapat gejala atau faktor risiko yang mengarah pada gonore, klamidia, atau infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
3. USG skrotum dengan Doppler
Pemeriksaan ini dapat membantu mengevaluasi struktur testis dan aliran darah, termasuk ketika dokter ahli mencurigai torsio testis.
4. Pemeriksaan tambahan lainnya
Dokter ahli menentukan pemeriksaan berdasarkan hasil evaluasi awal dan gejala pasien.
Cara Mengatasi Nyeri Testis Setelah Berhubungan
Penanganan bergantung pada penyebabnya.
Karena itu, tidak ada satu obat-obatan yang cocok untuk semua kasus.
Untuk nyeri ringan yang terjadi setelah aktivitas dan tidak di sertai tanda bahaya, beberapa langkah sederhana dapat membantu:
- Beristirahat sementara dari aktivitas seksual.
- Hindari aktivitas yang memberikan tekanan pada skrotum.
- Gunakan pakaian dalam yang dapat menopang skrotum dengan nyaman.
- Kompres dingin dengan pembungkus kain untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman.
- Gunakan obat-obatan pereda nyeri yang sesuai jika tidak memiliki kontraindikasi dan mengikuti petunjuk penggunaan.
Namun, jangan hanya mengandalkan obat-obatan pereda nyeri jika nyeri berulang atau di sertai gejala infeksi.
Jika penyebabnya epididimitis karena bakteri, misalnya, dokter ahli dapat memberikan antibiotik sesuai diagnosis.
Kapan Nyeri Testis Harus Segera Diperiksa?
Segera cari pertolongan medis apabila:
- Nyeri muncul tiba-tiba dan sangat hebat.
- Testis membengkak secara cepat.
- Nyeri di sertai mual atau muntah.
- Salah satu testis tampak lebih tinggi dari biasanya.
- Nyeri tidak membaik saat beristirahat.
- Terdapat demam.
- Keluar darah dalam urine atau semen.
- Terdapat cairan abnormal (tidak normal) dari penis.
- Nyeri di sertai kesulitan kencing.
NHS menyarankan pertolongan medis segera untuk nyeri testis yang tiba-tiba dan berat atau nyeri yang berlangsung lebih dari 1 jam, karena kondisi tersebut dapat menandakan masalah serius seperti torsio testis.
Apakah Nyeri Testis Setelah Berhubungan Bisa Menjadi Tanda Kanker?
Nyeri testis saja biasanya bukan tanda khas kanker testis.
Namun, benjolan, pembengkakan, perubahan ukuran, bentuk, atau konsistensi testis tetap perlu di periksa.
NHS menjelaskan bahwa kanker testis lebih sering menimbulkan benjolan atau pembengkakan di bandingkan nyeri sebagai satu-satunya gejala.
Karena berbagai kondisi dapat menyebabkan keluhan serupa, pemeriksaan dokter ahli tetap di perlukan apabila Anda menemukan perubahan pada testis.
Konsultasi Nyeri Testis di Klinik Apollo
Nyeri testis setelah berhubungan seksual dapat berasal dari berbagai kondisi, mulai dari tekanan atau cedera ringan hingga infeksi dan kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Terlebih jika keluhan di sertai kencing perih, keluar cairan dari penis, pembengkakan, atau nyeri yang berulang (kambuh).
Klinik Apollo menyediakan layanan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan kulit dan kelamin dengan tenaga medis profesional. Pemeriksaan dapat membantu mengevaluasi penyebab keluhan, termasuk kemungkinan infeksi menular seksual (IMS), serta menentukan pemeriksaan dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Pelayanan juga mengutamakan privasi pasien. Jika Anda mengalami nyeri testis setelah berhubungan seksual, jangan menebak penyebabnya atau mengonsumsi obat-obatan sembarangan.
Segera konsultasikan keluhan Anda di Klinik Apollo untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat, mengetahui penyebabnya, dan memperoleh arahan pengobatan sesuai kondisi Anda.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta



