Klinik Apollo – Nyeri antara testis dan anus merupakan keluhan yang dapat membuat pria merasa tidak nyaman, terutama ketika duduk, kencing, buang air besar (BAB), atau setelah ejakulasi.
Area tersebut di sebut perineum, yaitu bagian tubuh yang berada di antara skrotum dan anus.
Keluhan ini tidak selalu berasal dari testis. Gangguan pada prostat, saluran kemih, otot panggul, saraf, maupun area anus juga dapat menimbulkan rasa sakit di sekitar perineum.
Karena itu, penyebabnya perlu di ketahui melalui pemeriksaan yang sesuai.
Apa Itu Nyeri Antara Testis dan Anus?
Nyeri antara testis dan anus adalah rasa sakit atau tidak nyaman pada area perineum.
Intensitasnya dapat berbeda pada setiap orang, mulai dari rasa pegal, tertekan, berdenyut, terbakar, hingga nyeri menusuk.
Pada beberapa kondisi, nyeri dapat menjalar ke:
- testis atau skrotum;
- penis;
- selangkangan;
- perut bagian bawah;
- bokong;
- punggung bawah.
Salah satu penyebab yang cukup sering berkaitan dengan keluhan ini adalah prostatitis, yaitu peradangan pada kelenjar prostat.
Prostatitis dapat menimbulkan nyeri di antara skrotum dan anus, serta keluhan saat kencing atau ejakulasi.
Penyebab Nyeri Antara Testis dan Anus
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan sakit di antara testis dan anus antara lain:
1. Prostatitis
Prostatitis merupakan peradangan pada prostat.
Kondisi ini dapat di sebabkan infeksi bakteri, tetapi tidak semua prostatitis berasal dari infeksi.
Gejalanya dapat berupa:
- nyeri pada perineum;
- nyeri testis atau skrotum;
- rasa terbakar ketika kencing;
- sering ingin kencing;
- sulit memulai aliran urine;
- aliran urine lemah;
- nyeri ketika atau setelah ejakulasi.
Pada prostatitis akut akibat bakteri, gejala dapat muncul secara tiba-tiba dan di sertai demam atau menggigil.
2. Chronic Pelvic Pain Syndrome
Nyeri panggul kronis pada pria atau chronic prostatitis atau chronic pelvic pain syndrome (CP atau CPPS) dapat menyebabkan nyeri yang berlangsung lama atau berulang (kambuh) pada area panggul dan perineum.
Pada kondisi ini, dokter ahli mungkin tidak menemukan bukti adanya infeksi bakteri.
Karena itu, pengobatannya tidak selalu berupa antibiotik dan perlu di sesuaikan dengan penyebab serta gejala yang dialami.
3. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Infeksi saluran kemih (ISK) pada pria dapat menyebabkan nyeri pada area panggul dan di sertai gejala seperti:
- nyeri atau rasa terbakar saat kencing;
- sering kencing;
- urine berbau atau tampak keruh;
- rasa tidak nyaman di perut bagian bawah.
Terutamanya infeksi pada saluran kemih juga dapat berkaitan dengan prostatitis.
4. Infeksi Menular Seksual (IMS)
Beberapa infeksi menular seksual (IMS), seperti gonore (kencing nanah) atau klamidia, dapat menyebabkan keluhan pada saluran kemih dan organ reproduksi pria.
Jika terdapat riwayat hubungan seksual berisiko, dokter ahli dapat mempertimbangkan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) sebagai bagian dari diagnosis.
Keluhan yang menyertai dapat berupa keluar cairan dari penis, nyeri saat kencing, nyeri testis, atau rasa tidak nyaman pada panggul.
5. Gangguan Otot Dasar Panggul
Ketegangan atau gangguan pada otot dasar panggul juga dapat menimbulkan nyeri perineum.
Rasa sakit dapat terasa ketika duduk dalam waktu lama atau melakukan aktivitas tertentu.
Pada nyeri panggul kronis, faktor otot dan kondisi lain dapat berperan sehingga dokter ahli perlu menilai penyebabnya secara menyeluruh.
6. Gangguan Saraf
Iritasi saraf tertentu, termasuk pudendal neuralgia, dapat menyebabkan rasa terbakar, tertusuk, kesemutan, atau nyeri pada area genital, anus, perineum, dan panggul.
Keluhan tersebut pada sebagian orang dapat semakin terasa ketika duduk.
7. Masalah pada Area Anus
Gangguan seperti fisura ani, fistula ani, atau masalah lain di sekitar anus juga dapat menimbulkan nyeri yang terasa sampai area antara anus dan testis.
Karena lokasinya berdekatan, sumber nyeri tidak selalu mudah di tentukan hanya berdasarkan lokasi keluhan.
8. Gangguan pada Testis
Nyeri yang di rasakan di sekitar perineum terkadang berkaitan dengan masalah pada testis atau jaringan di sekitarnya, misalnya epididimitis, cedera, hernia inguinalis, atau varikokel.
Gejala yang Dapat Menyertai
Selain nyeri antara testis dan anus, perhatikan apakah muncul gejala lain seperti:
- testis terasa sakit atau bengkak;
- nyeri saat kencing;
- sering atau sulit kencing;
- aliran urine melemah;
- nyeri saat ejakulasi;
- keluar cairan dari penis;
- darah dalam urine atau sperma;
- demam dan menggigil;
- nyeri perut bagian bawah atau pinggang.
Informasi tersebut membantu dokter ahli mempersempit kemungkinan penyebab dan menentukan pemeriksaan yang di perlukan.
Bagaimana Dokter Ahli Mendiagnosis Penyebabnya?
Dokter ahli biasanya memulai pemeriksaan dengan menanyakan lokasi, durasi, intensitas, serta faktor yang memperberat atau mengurangi nyeri.
Pemeriksaan dapat meliputi:
- Pemeriksaan fisik pada penis, skrotum, perut, dan area panggul.
- Pemeriksaan urine untuk mencari tanda infeksi.
- Tes darah bila di perlukan.
- Pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) jika terdapat faktor risiko.
- Pemeriksaan prostat melalui rektum pada kondisi tertentu.
- USG atau pemeriksaan pencitraan lain bila dokter ahli mencurigai kelainan tertentu.
Pemeriksaan di pilih berdasarkan gejala dan dugaan penyebab, sehingga tidak semua pasien membutuhkan seluruh jenis pemeriksaan.
Pengobatan Nyeri Antara Testis dan Anus
Cara mengobati nyeri antara testis dan anus bergantung pada penyebabnya.
Tidak di anjurkan mengonsumsi antibiotik sendiri karena tidak semua nyeri perineum di sebabkan oleh infeksi bakteri.
1. Jika disebabkan infeksi bakteri
Dokter ahli dapat memberikan antibiotik sesuai diagnosis.
Pada prostatitis bakteri, terapi antibiotik dapat berlangsung selama beberapa minggu dan harus di gunakan sesuai resep dokter ahli.
2. Jika berkaitan dengan nyeri panggul kronis
Penanganannya dapat melibatkan obat untuk mengurangi gejala, terapi fisik, pengelolaan otot dasar panggul, serta pendekatan lain sesuai kondisi pasien.
Tidak ada satu terapi yang cocok untuk semua kasus.
3. Jika disebabkan gangguan saraf atau otot
Dokter ahli dapat mempertimbangkan terapi yang di tujukan untuk mengurangi iritasi saraf atau ketegangan otot, termasuk fisioterapi pada kasus tertentu.
4. Perawatan sementara di rumah
Sambil menunggu pemeriksaan, beberapa langkah dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan, seperti cukup minum dan menghindari aktivitas yang jelas memperburuk nyeri.
Pada sebagian kasus prostatitis, mandi air hangat juga dapat membantu meredakan gejala.
Kapan Nyeri Antara Testis dan Anus Harus Diperiksakan?
Jangan mengabaikan nyeri yang menetap, berulang (kambuh), atau semakin berat.
Terlebih jika di sertai gangguan kencing, darah dalam urine, demam, atau nyeri pada testis.
Segera mencari pertolongan medis jika tidak dapat kencing, mengalami demam dan menggigil di sertai keluhan berkemih, terdapat darah dalam urine, atau mengalami nyeri panggul atau genital yang berat.
Selain itu, nyeri testis yang muncul tiba-tiba dan sangat berat merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan segera karena salah satu kemungkinannya adalah torsio testis, yaitu testis terpuntir sehingga aliran darahnya terganggu.
Kesimpulan
Nyeri antara testis dan anus atau nyeri perineum pada pria dapat di sebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari prostatitis, infeksi saluran kemih (ISK) dan IMS (infeksi menular seksual), gangguan otot panggul, masalah saraf, hingga gangguan pada testis atau area anus.
Karena gejalanya dapat menyerupai beberapa penyakit lain, pemeriksaan dokter ahli penting untuk menentukan penyebab yang tepat. Jangan hanya mengandalkan obat-obatan pereda nyeri atau membeli antibiotik sendiri.
Dengan diagnosis yang tepat, penanganan dapat di sesuaikan dengan penyebab sehingga keluhan dapat di tangani secara lebih aman dan efektif.
Jika Anda mengalami nyeri antara testis dan anus, nyeri testis, gangguan berkemih, atau keluhan pada organ reproduksi, segera konsultasikan kondisi Anda ke Klinik Apollo untuk mendapatkan evaluasi oleh dokter ahli, pemeriksaan yang sesuai, serta penanganan yang di sesuaikan dengan kondisi Anda. Pemeriksaan lebih awal membantu mengetahui penyebab keluhan dan menentukan langkah pengobatan yang tepat sekaligus menjaga privasi pasien.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta



